Futr al-Muballigh

Memahami Gejala Penurunan Motivasi Berdakwah

Lemahnya kompetensi para mubaligh bisa menjadi bumerang bukan saja bagi sang mubaligh, tetapi juga bagi setiap gerakan dakwah dan umat. Karena, betapa pun baiknya sebuah gerakan dakwah ditata oleh sebuah institusi dakwah dan kuatnya ghirah keislaman umat, tetap akan berisiko ketika aktivitas dakwah dipandu oleh pelaku-pelaku dakwah (mubaligh) yang kurang atau bahkan tidak kompeten. Oleh karenanya, penguatan kompetensi para mubaligh — dengan cara apa pun — menjadi sebuah keniscayaan, kapan pun, di mana pun dan bagi siapa pun, demi kepentingan sang mubaligh, setiap gerakan dakwah dan umat.

Prolog

Citra Mubaligh sebagi pelaku dakwah kadang memudar, karena faktor internal mubaligh sendiri. Ada dinamika internal yang ‘mandek’, sehingga melemahkan potensi dan keberhasilan dakwahnya.

Sebenarnya para mubaligh pada umumnya paham bahwa memelihara semangat, mengembangkan potensi dakwah bukan merupakan sesuatu yang mudah. Mungkin karena sesuatu yang terkait langsung dengan kompetensi metodologis maupun substantif para mubaligh sendiri, maupun kematangan pribadinya yang terkait dengan motivasinya sebagai seorang mubaligh yang semestinya sudah terbangun sejak awal ketika yang bersangkutan berhimmah untuk memilih dakwah sebagai jalan hidupnya.

Dakwah, sebagai sebuah pilihan hidup, bukanlah sesuatu yang serba menjanjikan. Bahkan dalam banyak hal merupakan jalan terjal-berliku yang penuh tantangan. Dan di ketika sang mubaligh tidak cukup kokoh dalam memersiapkan dirinya, maka bukan tidak mungkin pada saatnya dia akan mengalami kerugian, baik dalam menjaga citra pribadinya maupun dalam meraih capaian-capaian yang diinginnya dalam berdakwah. Di samping itu, dampak negatif eksternalnya pun tidak mungkin dihindari. Karena, betapa pun keberhasilan setiap gerakan dakwah akan ditentukan oleh kompetensi para mubalighnya.

Memahami Peran Mubaligh

Dakwah bukan sekadar melaksanakan kegiatan pengislaman dalam arti formal. Lebih jauh dari itu, Dakwah diartikan sebagai upaya menyeluruh untuk menumbuhkembangkan kondisi ideal dalam takaran Islam. Sehingga rumusan tujuannya selalu mengarah pada pengislaman dalam arti yang sebenar-benarnya (Islam dalam pengertian esensialnya).

Kegiatan dakwah yang sebegitu kompleks harus dikemas dengan kemasan proses yang ideal, yang tentu saja tidak mungkin dilaksanakan oleh para pelaku dakwah yang tidak atau kurang kompeten, baik dalam pengertian intektual mapun moral.

Di saat sebuah gerakan dakwah diinginkan untuk menjadi sebuah mesin-penggerak yang efektif, maka penyiapan para mubaligh yang handal sudah menjadi sebuah keniscayaan. Karena, betapa pun baiknya sebuah institusi dakwah, ia tidak akan pernah menjadi sesuatu yang bermakna ketika tidak diisi oleh pelaku-pelaku dakwah yang kompeten.

Kompentensi mubaligh terkait dengan dua hal penting, di samping kesemaptaan fisik dan keterampilan manajerial yang yang tidak boleh tidak harus dimilikinya. Pertama, kompetensi intelektual, yang bermakna penguasaan materi dan metode dakwah. Kedua, kompetensi moral, yang bermakna kesemaptaan kepribadian dalam arti spiritual.

Seringkali mubaligh kita tampil dalam sebuah kemasan dakwah dengan tampilan-tampilan kosmetikal. Bahkan, karena tuntutan publik seseorang mubaligh ditampilkan dan menampilkan diri dengan topeng-topeng kesalehan dan kemampuan retorika yang dilatihkan secara instan. Para mubaligh instan ini bisa jadi muncul di mana-mana dan sebegitu dikagumi oleh umat dengan kekaguman yang berlebihan karena tampilan kosmetikalnya. Bahkan akhir-akhir ini ada gejala idolatry yang kurang sehat dalam dunia dakwah, sehingga sebuah kemasan dakwah yang direduksi menjadi sebuah pertunjukan ‘hiburan’ dianggap menjadi lebih penting daripada sebuah gerakan dakwah yang sistemik dan sistematik.

Dalam konteks dakwah dalam pengertian ‘awam’, peran para mubaligh instan ini sangat dirasakan penting oleh umat. Bahkan dalam realitas dakwah, yang sudah direduksi menjadi kemasan tablgh bil lisn, pengaruh merekalah (para mubaligh instan) yang banyak mendominasi pemahaman keislaman umat Islam. Terkadang sikap kritis umat – yang sudah sebegitu mengidolakan para mubalighnya — tidak tumbuh subur. Bahkan ironisnya, sikap taqlid terasa lebih menjamur daripada sikap kritis umat Islam dalam memahami pesan-pesan dakwah para mubaligh instan ini. Pelajaran-pelajaran mereka tidak jarang dijadikan sebagai catatan kaki oleh penggemar fanatik mereka, dan bahkan tidak jarang dijadikan sebagai alas berpikir, bersikap dan bertindak.

Menyikapi fenomena ini, tentu saja kita tidak boleh diam. Sudah seharusnya fenomena ini menjadi keprihatinan bersama. Karena, betapa pun umat Islam harus diselamatkan dari idolatry semacam ini dengan solusi yang tepat.

Ketika kita melihat dengan kasat mata betapa para mubaligh tersebut benar-benar telah menjadi orang-orang yang telah berhasil mempengaruhi, bukan saja cara berpikir umat Islam, bahkan sampai pada gaya hidup mereka (umat Islam), sudah saatnya kita cerdaskan umat Islam dengan menampilkan para mubaligh yang berkualitas memadai untuk menjadi panutan umat. Tugas kita tentu saja tidak ringan, karena gejala idolatry ini sudah menjadi bagian yang tak tepisahkan dari umat kita. Idolatry yang bukan saja kepada para mubaligh handal (yang tidak dapat dibenarkan), lebih parah lagi kepada para mubaligh instan yang dalam hal ini kurang memiliki kehandalan baik dalam pengertian intelektual maupun moral.

Pendidikan dan Pelatihan Mubaligh: Sebuah Solusi Alternatif

Bagi Muhammadiyah kegiatan pengkaderan Mubaligh bukan merupakan kegiatan baru. Tetapi, pertanyaannya, sudahkah Muhammadiyah melakukan kegiatan pengkaderan mubaligh ini secara sistemik dan sistematik dalam sebuah kegiatan pendidikan dan pelatihan terpadu dalam sebuah proses yang benar-benar dapat dipertanggungjawabkan?

Kini Muhammadiyah sebagaimana sejak dirinya menapakkan dirinya sebagai gerakan dakwah amar ma’ruf nahi munkar tidak pernah tidak memiliki majelis tabligh. Dan dalam konteks pengembangan pendidikan tingginya memiliki semumlah fakultas, jurusan dan program studi yang berlabel atau bermakna dakwah. Ada Fakultas Dakwah, Ada Fakultas Agama, Jurusan Dakwah dan ada pula Program Studi Dakwah dengan label beragam.Dari majelis tabligh, dengan pelbagi perubahan nama dan bentuknya, dan sejumlah perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan dakwah, sudah adakah kegiatan monitoring dan evaluasi terpadu yang dilakukan oleh Muhammadiyah yang padairnya melahirkan hasil penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan validitas dan reliabilitasnya secara ilmiah? Benarkah mereka telah melakukan kegiatan pendidikan dan pelatihan dakwah yang relevan dengan kebutuhan dakwah Muhammadiyah, saat ini dan masa mendatang?

Dalam hal ini penulis memiliki asumsi yang agak pesimistik. Dengan melihat problematika dakwah Muhammadiyah sendiri, penulis tidak begitu yakin bahwa Muhammadiyah, melalui majelis tablighnya dan lembaga-lembaga pendidikan formalnya belum melakukan proses pendidikan dan pelatihan dakwahnya dengan ‘tepat dan benar’. Barangkali, masih banyak celah yang perlu diperbaiki dalam hal penyelenggaraan kegiatan pendidikan dan pelatihan dakwah Muhammadiyah, sehingga benar-benar akan melahirkan mubaligh yang handal, yang selamanya akan terus diperlukan, baik oleh kalangan Muhammadiyah dan umat.

Satu hal yang mungkin ditawarkan adalah: perlunya sinergi yang tertata antara Persyarikatan Muhammadiyah dan amal usaha Muhammadiyah dalam menyelenggarakan kegiatan pendidikan dan pelatikan mubaligh secara berkesinambungan untuk menjawab tantangan dakwah saat ini dan masa mendatang dan mencukupi kebutuhan para mubaligh yang memadai bagi umat yang haus tuntunan Islam yang benar-benar dapat dipertanggungjawabkan.

Epilog

Bahaya Futr, baik bagi para mubaligh atau pun umat Islam yang selalu menantikan tuntunan para mubaligh, dengan melihat realitas kehidupan sosial-keagamaan kita sudah bukan sekadar menjadi sebuah kekhawatiran belaka. Keterpurukan umat dalam ketidaksalehan vertikal dan horisontal telah bisa kita lihat dengan kasat mata.

Lahirnya para mubaligh instan dan idolatry yang menjadi gejala masif, sudah semestinya kita sikapi dengan tindakan kongkret. Dengan salah satunya: menyiapkan para mubaligh handal, yang kita proses dengan sebuah kegiatan pendidikan dan pelatihan terpadu, untuk menggantikan peran mereka (para mubaligh instan) yang kadang-kadang dengan hanya berbekal semangat keagamaan dan tampilan-tampilan kosmetikal maju ke tengah medan dakwah dengan semangat heroik. Yang akibatnya bisa kita lihat sendiri: banyak di antara mereka yang terpaksa harus menanggung dosa kolektif umat yang terseok dalam pemahaman yang kurang dapat dipertanggungjawabkan dalam berislam, baik dalam pengertian intelektual maupun moral.

Dan ironisnya, dalam kesalehan minimal mereka, yang sudah sepantasnya segera kita gantikan dengan kehadiran wajah baru Islam yang dapat dipertanggungjawabkan, kita pun kadang-kadang kurang peduli.

kumpulan materi dalam “Mutiara Ramadhan: Menggapai Kebahagian Bersama Allah” karya ust Drs. Muhsin Hariyanto, M.Ag

e-mail: arfiz.m@gmail.com – blog: http://muhsinhar/staff.umy.ac.id – http://www.slideshare.net/MuhsinHariyanto

Leave a Reply