Waktu

jamWaktu…. ya terkadang kita sering menyepelekannya. Padahal disetiap perputarannya memiliki makna yang sangat penting bagi kehidupan kita. Sekarang coba kita pikirkan berapa banyak waktu yang kita gunakan untuk hal yang bermanfaat dan waktu yang kita gunakan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat dari mulai kita lahir hingga sekarang, jika itu terlalu susah coba deh kita ingat-ingat dan hitung dalam sehari saja dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi. Setelah itu bandingkan lebih banyak hal-hal yang bermanfaat atau yang tidak bermanfaat.

Kenapa demikian saya mengajak untuk menghitung waktu. Jawabanya adalah karena waktu tidak dapat kita hentikan dan tidak dapat pula kita percepat. Banyak kata-kata bijak yang mengatakan “time is money”. Lah ko waktu adalah uang sih???? Waktu kan hanya sebuah hitungan yang jumlahnya hanya 24 jam dalam sehari, betul bukan??? Tapi tidak seperti itu teman-teman, ketika menafsirkan waktu adalah uang. Bukan dalam artian waktu itu uang akan tetapi kita ibaratkan lkalau waktu itu uang. Sekarang coba pikirkan bagaimana kita memperlakukan uang, ketika kita punya uang apa lagi uang itu hasil kerja keras kita sendiri pasti akan begitu sangat hati-hati ketika kita akan menggunakannya. Mau beli ini itu pasti mikir dulu kan, dan uang pula tahu harga barang. Ketika barang itu bagus maka harganya pun akan lebih besar dari barang yang hanya memiliki kualitas biasa saja.

Nah begitupun dengan waktu, harusnya kita memperlakukan waktu kita yang hanya 24 jam dalam sehari itu layaknya uang. Jadi tidak akan ada waktu sedikit pun yang kita buang secara cuma-cuma. Untuk kalian yang berfikiran “ah…uang buat saya biasa saja” karena misalkan orang tua kalian adalah seorang mentri keuangan negara atau mungkin seorang pengusaha yang perusahannya sudah menyebar diseluruh dunia, jangan ibaratkan waktu dengan uang tapi dengan apa yang menurut kalian sangat kalian hargai.

Ingat teman-teman, waktu itu penting, karena waktulah yang mampu menjawab kapan kita akan menghadap yang Maha Kuasa. Jika sekarang kalian keliling dunia mencari jawaban kapan kalian akan mati dan mengharap jawaban dari Allah atau para Malaikat, saya yakin tidak akan pernah ada jawabannya. Karena itu hanya rahasia Allah SWT. Jadi gunakan waktu kita sebaik mungkin, apalagi kita sebagai seorang mahasiswa, tentunya harus tahu bagaimana cara kita menggunakan waktu kita.

Penggunaan waktu untuk kita yang berpendidikan harus berbeda dengan mereka yang kurang beruntung seperti kita. Kita patut bersyukur diberi kesempatan merasakan bangku kuliah dan merasakan betapa indahnya jadi mahasiswa. Jangan malah sebaliknya, dalam menggunakan waktu kita lebih buruk dari mereka yang tidak bisa seperti kita.

Contohnya, mereka yang sangat menginginkan kuliah tapi karena faktor ekonomi dan sebagainya kurang mendukung, ketika pagi hari tiba mereka bangun dengan cepat untuk mempertahankan hidup mereka. Mereka pergi kesana-sini mencari pekerjaan hanya untuk sesuap nasi, panas dan hujan sudah menjadi hal yang biasa untuk mereka, tapi tidak sedikitpun mengurangi semangat mereka.

Sedangkan kita, misalkan karena kuliah masuk siang kita berleha-leha, boro-boro shalat tahajud yang sunnah shalat subuh saja yang merupakan kewajiban kita tinggalkan. Kemudian datang ke kampus hanya ngobrol-ngobrol sama teman-teman membahas nanti sepulang kuliah mau main kemana. Ketika dosen sedang menerangkan kita malah asik dengan gadget kita yang aplikasinya sudah sangat waw sekali, seperti main fb, bbm, wa, line dan lain sebagainya. Sepulang dari kampus pergi main sama teman-teman, karokean lah, belanja hal-hal yang gak penting lah, makan-makanan yang berkelas lah biar kelihatan keren, sampai larut malam. Sampai kosan kecapen dan akhirnya tidur, dengan sengaja melupakan kewajiban kita sebagai mahasiswa yaitu belajar. Ketika ada yang menyuruh belajar bilangnya “ah gak perlu belajar, toh dikampus juga udah belajar waktu di kelas”, wah wah wah wah…yang seperti inilah salah satu contoh orang yang tidak menghargai waktu. Inilah calon sarjana yang gadungan. Emangnya dengan hanya belajar di kampus ketika  di kelas cukup untuk menjadi sarjana??? Yaaa enggak lah sekalipun jadi sarjana paling jadi sarjana gadungan yang bisanya hanya berlindung diketiak orang lain.

Maka dari itu teman-teman semuanya, mulailah dari sekarang kitu rubah kebiasaan kita menghargai waktu dan menggunakannya sebaik mungkin. Kita harus ingat bagaimana orang tua kita bersusah payah mengabiskan tenaga mereka untuk menjadikan kita anaknya seorang sarjana, meskipun sekarang misalkan orang tua teman-teman orang kaya raya, tapi ingat teman kita tidak tahu bagaimana perjuangan mereka bukan. Sekali-kali coba kita tanya bagaimana kronologi kehidupan orang tua kita dulu, enggak ada salahnya bukan??? Saya yakin akan banyak pengalaman mereka yang bisa kita contoh.

Nah…teman-teman selepas membaca ini semoga kita bisa bersama-sama merubah kebiasaan buruk kita. Mumpung Allah masih memeberikan kita kesempatan untuk kita berubah. Teman-teman satu pesan saya “jadilah bunga yang bisa menghasilkan madu, janganlah menjadi tumbuhan benalu yang hanya bisa merugikan tumbuhan lain”. Semoga bermanfaat dan terimakasih. 🙂 🙂 🙂

Ditulis Oleh:

Siska Mustika Residen

Siska Mustika
Residen

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *