Muhammad Iqbal Khatami, Usrah Utsman Bin Affan, Ilmu Komunikasi 16’

Facebook: https://www.facebook.com/iqbaltwentyone

G+: https://plus.google.com/118215778035367820768

Blog: http://pojoksenja.blogspot.co.id/

Salah satu artikel penulis pernah dimuat di http://panditfootball.com dengan judul: Mempertanyakan Kadar Nasionalisme Kompetisi Sepakbola Indonesia

Adapun salah satu puisi penulis berjudul Harapan Sang Kelam (saat masih menjadi Siswa SMAN 1 Takisung) dimuat di www.pelpost.com

Bagi kita mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), apa yang pertama terlintas di benak kita saat mendengar kata University Residence (UNIRES)? Kita tentu akan menemukan jawaban beragam, berdasarkan pengalaman penulis, ada yang menyebutnya sebagai pesantrennya UMY, tempat orang-orang sholeh dan sholehah,  bahkan ada yang menyebutnya penjara mahasiswa. Jawaban beragam pasti akan kita temui jika kita menanyakannya kepada orang yang bukan atau tidak pernah menghuni asrama mahasiswa UMY ini.

Dalam tulisan ini penulis akan berbagi pengalaman dan kesan tentang Unires selama hampir setahun menjadi resident. Kesan awal ketika melihat bangunan Unires yaitu berupa bangunan megah dan pastinya sangat nyaman ketika kita menjadikannya sebagai tempat tinggal. Itu terbukti ketika beberapa minggu menempati kamar di Unires, berasa nyaman dan tenteram dari segi fasilitasnya.

Kendala utama beberapa dari kita yang tidak betah tinggal di Unires adalah karena tidak biasa mengikuti program yang bisa dibilang cukup padat, apalagi bagi kita yang sebelumnya tidak pernah tinggal di asrama. Namun, bagi yang ikhlas menjalaninya pasti terasa ringan-ringan saja.

Mencari Makna Slogan

Sebagai mahasiswa UMY, sudah tidak asing dengan slogan ‘Unggul dan Islami’. Sebagai mahasiswa baru, awal-awal menginjakkan kaki penulis menaruh ekspetasi ketika menjalani perkuliahan bahwa semua mata kuliah akan dibalut dengan peningkatan pengetahuan agama guna membentuk mahasiswa yang unggul dan islami sebagaimana slogan kampus kita.

Bagi kalian yang mempunyai ekspetasi sama, maka seolah-olah ekspetasi kita tak sesuai harapan. Tak ada yang beda dari proses belajar mengajar di kampus, meskipun ada di selipkan mata kuliah keagamaan yang itupun hanya satu kali seminggu. semakin menambah yakin penulis bahwa slogan tersebut hanyalah sebuah slogan, tanpa bukti konkret. Namun, pencarian tersebut tidak bertahan lama, penulis sudah mulai menemukan gambaran nyata tentang slogan unggul dan islami tersebut; di Unires lah tempatnya. Mengapa?

Unires bukan hanya sebagai tempat tinggal dan menjadi apartemennya mahasiswa pilihan, penulis sebut pilihan karena untuk masuk kesini harus melewati tes-tes terlebih dahulu, bukan? Unires sudah menjadi bangku kuliah ke 2 kita selain di kampus. Banyak sekali yang

diajarkan di Unires, terutama dalam hal keagamaan.

Di Unires, Ibadah kita terjamin. Yang biasanya kalo sebelum tinggal di Unires Shalat kita masih bolong-bolong, maka di Unires shalat kita akan lebih terjaga dan selalu berjamaah. Tiap selesai shalat kita juga akan mendengarkan kultum dan tentunya akan menambah wawasan kita. Tidak hanya itu, di unires kita juga di ajari membaca, memahami dan menghafal Al-Quran. Meskipun di kampus juga ada program Baca Tulis AlQuran (BTA), Tentu di Unires lebih intensif dan efektif belajarnya menurut penilaian penulis.

Peraturan-peraturan yang diterapkan juga sangat membantu membentuk akhlak dan kemampuan resident menjadi lebih baik lagi, seperti batasan jam malam hingga jam bahasa asing setiap harinya. Seluruh kegiatan di unires bisa kita gunakan sebagai bekal untuk di bangku kuliah hingga di masyarakat.

Satu Atap Satu Keluarga

    Seluruh Resident yang menghuni Unires tentu mempunyai motivasi yang beragam untuk tinggal di sini. Namun, kebersamaan di antara kita tetap selalu terjalin dan selalu dijaga melalui kegiatan-kegiatan Unires yang bertujuan menjaga tali silaturahmi antar resident. Seperti Pekan Kompetisi Unires (PKU) yang menjadi ajang seru-seruan bagi resident dan pemersatu resident. Sudah sepatutnya kita sebagai resident saling melengkapi dan berbagi sebagaimana keluarga. Silaturahmi bukan hanya terjalin ketika tinggal di asrama saja, namun juga saat sudah tidak menghuni asrama ini lagi.

Maka, disinilah penulis menemukan arti unggul dan islami sesungguhnya. Bukan berarti harus berbangga diri, namun kita berhak bangga kepada UMY mempunyai asrama mahasiswa seperti Unires yang belum tentu dimiliki kampus lain.