Asrama Mahasiswa UMY

Sosok Wanita Mulia

Spread the love

Siapa yang tak kenal sosok wanita yang satu ini, seseorang yang sangat berjasa dalam hidup kita, karenanya kita terlahir ke dunia ini, karena jerit payahnya lah kita jadi seperti saat sekarang ini, mengandung kita selama 9 bulan lamanya, kemanapun dia pergi kita selalu ikut dengannya. Menahan pedih, sakit dan lelah disaat mengandung sudah menjadi kebiasaan sehari-hari, itu semua demi kita yang berada didalam perutnya, agar tetap sehat dan baik-baik saja, terkadang juga disaat kita menginginkan sesuatu yaitu pada saat dia mengidam, dia selalu berusaha memenuhi apa yang diminta oleh kita yang berada didalam perutnya, itulah bukti cinta dan sayangnya dia kepada kita, itu semua dilakukan tulus demi kita.

Dengan melewati kesakitan dan kesusahan yang selama 9 bulan itu, beralih lagi ke tahap selanjutnya, tahap yang benar-benar mempertaruhkan jiwa dan raganya, yaitu detik-detik menegangkan untuk dapat kita lahir ke dunia ini, rasa sakit yang begitu perih dirasakannya, mengerahkan seluruh tenaganya disertai cucuran keringat yang  membasahi mukanya, penuh do’a dan harapan agar kita dapat terlahir dengan selamat. Sungguh perjuangan yang cukup-cukup berat, dia rela mempertaruhkan nyawanya demi kita terlahir dengan selamat kedunia ini.

Setelah melewati masa-masa yang menegangkan dan menyakitkan itu, masuklah ke babak baru, yaitu merawat dan mengurus keseharian kita. Hampir seharian penuh kita selalu butuh sosok dia. ketika makan, minum, tidur, nangis dan lain sebagainya. Kehadirannya benar-benar full time buat kita, terkadang kala dia sedang tertidur pulas dimalam hari, ketika kita menangis diapun harus bangun untuk menenangkan kita. Dan itulah keseharian yang
terus dijalaninya setiap hari, dari kita bayi hingga kita menginjak dewasa, sampai benar-benar kita bisa mandiri.

Itulah sekilas fase-fase yang dilalui dan dirasakan ibunda kita, lalu bagaimana kedudukan seorang bunda didalam hidup kita. Rasulullah SAW bersabda :

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu dia berkata; “Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sambil berkata; “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak aku berbakti kepadanya?” Beliau menjawab: “Ibumu.” Dia bertanya lagi; “Kemudian siapa?” Beliau menjawab: “Ibumu.” Dia bertanya lagi;  “Kemudian siapa lagi?” Beliau menjawab: “Ibumu.” Dia bertanya lagi; “Kemudian siapa?” Beliau menjawab: “Kemudian ayahmu. (HR.Bukhari).

Dari hadits ini dapat kita petik ibrah bahwa, kedudukan bunda itu sungguh sangat-sangat mulia, sampai-sampai Rasulullah menyebut kata ibu sampai 3 kali, setelah itu baru ayah. Itulah Islam sungguh memuliakan kedudukan seorang ibu, wanita yang mencurahkan cintadan kasihnya kepada kita mulai dari mengandung, melahirkan,  merawat, hingga kita sampai seperti saat sekarang ini.

Lalu sekarang apa yang perlu kita renungkan sebagai seorang anak ?, apa yang perlu kita lakukan buat membalas jasa seorang ibu ?, mungkin itulah hal-hal yang perlu kita munculkan di kepala kita, biar kita sebagai seorang buah hati selalu sadar dan semakin sadar tentang arti kehadiran seorang ibu.

Renungan dasarnya adalah jangan pernah durhaka, melawan,dan berkata kasar kepadanya. Kita perlu ingat bahwa, jasa-jasanya itu tidak akan pernah dapat terbalas dengan apapun didunia ini, bahkan emas permata sekalipun. Maka untuk itu marilah kita introfeksi diri kita kembali, sudahkah kita berbakti ?, dan satu hal yang perlu kita ketahui bahwa, jangan pernah biarkan setetes air matapun keluar dari mata ibunda gara-gara tingkah laku kita,
karena apabila itu terjadi, maka itu akan menjadi penghalang bagi kita mencium syurga yang berada dibawah telapak kaki ibunda dan juga penghalang mendapat ridho dari yang maha kuasa.

Dan renungan selanjutnya adalah dengan apa kita harus membalas jasa-jasanya ?, sebenarnya ibunda tidak mengharapkan balasan apapun dari anaknya, ibunda hanya berharap semoga kita sukses dan suatu saat nanti mendapatkan keluarga yang baik, dan satu hal yang paling diharapkan ibunda adalah jangan pernah lupa mendo’akan dia didalam setiap do’a-do’a kita, untuk selalu diberi kesehatan dan umur yang panjang.

Dari tulisan saya ini, saya menukilkan dua kalimat bahwa “kita mempunyai utang nyawa kepada ibunda” dan “ibunda adalah guru pertama kita didunia ini”.

Ya, dengan mempertaruhkan nyawanya, kita ada didunia ini dan ibunda telah mengajari dan mendidik kita disegala aspek kehidupan kita, salah satu contohnya saja bahasa kita, sekiranya saja dulu ibunda hanya diam kepada kita pasti kita sekarang tidak bisa berbicara, tapi berkat sapaan dan candaannya kepada kita, akhirnya kita dengan pasih berbicara seperti sekarang ini, intinya semuanya karena ibunda dan karena cinta kasih ibunda yang ikhlas yang tak
pernah mengharap balas.

Semoga kita mampu meningkatkan cinta dan kasih sayang kita kepada ibunda kita, dan dapat membahagiakan kedua orangtua kita, serta menjadi anak yang berbakti yang selalu mendo’akan kedua orangtua kita. Amiinn.

 

Penulis : M. Reza Pahlevi Lubis
Usrah : Rasyid Ridla
SR/ASR : Hilman Abdul Aziz / Irvan Anugrah Hutasuhut

Tinggalkan komentar