SETAN : Sang Pemenang atau Pecundang

Oleh: Muhsin Hariyanto

Setan adalah kekuatan jahat yang merasuk dalam pribadi Jin dan Manusia. Mereka diciptakan oleh Allah sebagai penggoda umat manusia hingga akhir zaman. Berawal dari peran yang dimainkan oleh Iblis (Sang Penggoda), semula pada dasarnya dirinya diciptakan untuk mengabdi kepada Allah SWT — sebagaimana manusia (yang direpresentasikan oleh Adam dan Hawa) – yang diciptakan untuk beribadah kepada-Nya. Karena sikap enggan dan sombongnya, Iblis menjadi ‘pembangkang’ dan berperan menjadi setan” dari golongan Jin yang berhasil menjadi penggoda Adam-Hawa dengan instrumen buah “khuldi” yang cukup efektif membuat keduanya (Adam-Hawa) lupa atas larangan Allah dalam QS al-Baqarah, 2: 35 dan QS al-A’raf, 7: 19, (Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini [pohon yang dilarang Allah untuk didekati oleh keduanya, yang namanya tidak dijelaskan dalam ayat ini dan Hadis Nabi s.a.w.; tetapi ada yang menamakannya dengan sebutan “khuldi” sebagaimana tersebut dalam QS Thâhâ, 20: 120, tetapi itu adalah nama yang diberikan setan.], yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim).

Dari kedua ayat tersebut, jelaslah pelajaran Allah bagi kita bahwa setan akan menjadi pemenang bila kita lengah sedetik pun, dan sebaliknya kita akan menjadikannya sebagai pecundang bila kita tetap ingat kepada Allah, kapan pun dan di mana pun kita berada.

Ketika menginterpretasikan rangkaian kalimat akhir QS al-An’âm, 6: 142: “… janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu”, pada umumnya para pakar tafsir al-Quran menyatakan bahwa “jangan sampai kita (umat manusia) “sedikit pun” mengikuti bujuk-rayu setan. Sebab – bagaimanapun juga – setan tidak akan pernah mengajak berbuat baik dan mengajan kepada kebaikan.” Secara a priori, mereka bersepakat bahwa tidak ada yang perlu diikuti setiap langkah setan” . Pertanyaan lanjutnya adalah: (1) “apa saja langkah-langkah setan itu?”; (2) bagaimana kita menahan diri untuk tidak mengikutinya?; (3)  apa hikmah di balik larangan itu?

Di negeri kita tercinta – Indonesia – berbagai ragam kemaksiatan terpampang jelas di depan mata, bahkan terhiasi oleh berbagai macam perhiasan yang dapat mengaburkan pandangan mata kita, meskipun mata-hati kita pedih merasakannya. Tampilan kosmetikal – misalnya — para badut politik pun tak kalah menariknya, yang oleh pak Taufiq Ismail – dalam sebuah puisinya yang berjudul “Tuhan Sembilan Senti” – disindir dengan satu ungkapan: “dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna, diiklankan dengan indah dan cerdasnya”. Pemandangan serupa sekarang ini bukan merupapan sesuatu yang asing lagi di layar televisi, misalnya. Dahulu, kata Ibu saya – yang pernah berpuluh tahun menjadi guru Sekolah Dasar Muhammadiyah — perilaku semacam ini dirasa aneh. Tetapi, kini orang – pada umumnya — menganggap sebagai sesuatu yang wajar, sekalipun taruhannya adalah: “kita menjadi semakin bersahabat dengan ketidak-benaran dan ketidak baikan, yang karena kita anggap sebagai sesuatu yang wajar, kita semakin tidak memiliki kepekaan untuk membedakan: mana yang haq dan mana yang bathil. Setan, yang semula menjadi musuh kita, tiba-tiba – secara tidak sadar –  kita jadikan sebagai sahabat kita. Setan, kekuatan jahat yang ada di seputar kita, akhirnya menjadi panglima kita. Mengendalikan diri kita untuk menjadi sahabatnya, yang ujung-ujungnya menjadikan diri kita menjadi semakin bersahabat dengan berbagai bentuk kemaksiatan!

Setan memang tidak mengenal pilih kasih; semua orang menjadi target “bujuk-rayu” mereka; bukan hanya para badut politik yang sangat piawai bersenandung dengan kata-kata dan penampilan indah, bahkan para mubaligh dan pendidik yang bergerak di dunia dakwah dan pendidikan pun ‘bisa’ digoyang imannya dengan modus operansi yang beragam, secara sistemik dan sistematik, sebagaimana peringatan Allah pada firman-Nya dalam QS al-A’râf, 7: 16-17:  Iblis pun menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat). ”Setan, yang dalam hal ini diwakili oleh Jenderal Besarnya (Iblis) tidak akan pandang bulu dalam menyesatkan umat manusia. Manusia akan digoda dari depan, belakang, kanan dan kiri. Para setan – pengikut Iblis – akan selalu berjuang mati-matian untuk menyesatkan kita, di kala bangun, selagi tidur, pada waktu sekolah, kerja, istirahat, makan, minum, ke toilet, bahkan di saat kita melaksanakan shalat sekali pun. Kalau perlu, kata Rasulllah s.a.w. dalam salah satu hadisnya yang diriwayatkan oleh Bukhari-Muslim dari Anas bin Malik, “masuk ke dalam pembuluh darah kita”! Kelembutan rayuan komunitas setan, yang bisa berwujud Jin dan (juga) Manusia diilustrasikan oleh Allah dalam QS al-An’âm, 6: 112 (Demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan). Dan dalam QS an-Nisâ’, 4: 118-119 (Allah pun melaknatnya, dan setan itu mengatakan: “Saya benar-benar akan mengambil dari hamba-hamba Engkau bahagian yang sudah ditentukan (untuk saya), dan aku benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan menyuruh mereka (memotong telinga-telinga binatang ternak), lalu mereka benar-benar memotongnya, dan akan aku suruh mereka (mengubah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka mengubahnya”. Barangsiapa yang menjadikan setan menjadi pelindung selain Allah, maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata). Sebegitu memukanya, sehingga, sehingga membuat mereka  diberi predikat ‘makhluk halus’. Dan yang perlu diingat, bahwa semua aktivitas kita tidak akan pernah lepas dari lirikan ketajaman mata setan.  Siapapun, kata Allah – dalam QS an-Nahl, 16: 99; Shâd, 38: 82-83 — tidak akan mampu menghindarkan diri dari tipu daya mereka (para setan) dengan kepiawaian mereka dalam melakukan tipu-daya, kecuali orang-orang yang tawakal dan ikhlas. Ibaratnya, jadilah kita, manusia ini, mainan setan, kecuali orang-orang yang beriman. Seperti kwin loosomentar Harun Yahya (2003) pun – ketika menginterpretasikan QS al-Hijr, 15: 39-42  menyatakan: “I will make things on earth seem good to them and I will misled them all, every one of them except your servants among them who are sincere” (Akan kujadikan serasa indah semua yang ada di dunia ini bagi para manusia dan akan kusesatkan mereka semuanya [tanpa kecuali]; dan semuanya akan menjadi manusia-manusia sesat kecuali mereka yang benar-benar memiliki kesetiaan penuh untuk menjadi hamba Allah. Demikian kata setan kepada Allah SWT. Dan kita pun di negeri ini, boleh jadi tengah menjadi ‘sasaran empuk’ Iblis – yang pernah sukses mengoda Adam-Hawa — dengan “Tim Sukses”nya yang lebih canggih dalam mengoda umat manusia di zaman yang serba-terbuka.

Dari uraian di atas, kita paham bahwa memang berat sekali untuk menghindari godaan para setan ini. Kalau menghadiri pesta ulang tahun, tanpa harus diingatkan, kita bisa berdatangan on time. Menghadiri pertandingan sepak bola, bergerombol partisipannya. Apalagi pesta “umbar-syahwat” di berbagai tempat dan kesempatan. Tetapi, begitu diundang untuk menghadiri “undangan” Allah yang ditandai dengan suara azan para muazin, apakah kita telah terbiasa bergegas untuk mendatanginya?  Apalagi di waktu subuh, “Setan” lebih sering menjadi pemenang, dan kita pun terkapar di tempat tidur menjadi pecundang!

Ada saja alasan orang-orang untuk menghindar, tidak menghadiri undangan Allah. Pendeknya, jika diinvetarisasi, seribu satu lebih alasan. Padahal jadwal waktu shalat sudah kita ketahui. Hingga saya berpikir untuk belajar kepada Iblis dan “Tim Sukses”nya, kenapa mereka bisa seberhasil itu. Hebat benar cara kerja mereka dalam membujuk menusia agar jauh dari Allah. Seperti tim sukses partai-partai politik kita, Tim Sukses setan tak mengenal lelah. Mereka bekerja pagi, siang dan malam.

Setan-setan ini ternyata hebat sekali. Keberhasilan mereka nampak nyata kala kita lihat dalam angka kehadiran umat Islam ke masjid-masjid, dengan sampel “jamaah shalat subuh” yang selalu sepi. Seperti layaknya Tim Kampanye Pemilu saja, setan-setan ini bekerja ekstra keras untuk medorong diri kita untuk  besikap malas dalam beribadah. Bedanya, Tim Kampanye Pemilu biasanya bekerja untuk kepentingan politik jangka pendek, sedangkan setan bekerja untuk kepentingan yang lebih strategis: “menyesatkan umat manusia sepanjang masa!”

Tengoklah pusat-pusat perbelanjaan dan tempat-tempat  hiburan. Penuh dengan manusia dengan berbagai dandanan. Kesederhanaan nyaris sirna di antara kerumunan manusia yang mengunjungi tempat-tempat hiburan ini. Mereka menganggap tempat-tempat ini sebagai pelepas lelah spiritual. Jutaan rupiah dikeluarkan dengan tanpa tujuan yang jelas. Mengengok keberhasilan setan seperti ini, saya kira akan membuat Ketua Tim Sukses Setan pun tertawa, dan berteriak: “Kita Berhasil!” kata Iblis, sang Komandan, dengan sangat bangga.  Dan ternyata karya Tim Sukses Setan di negeri kita tercinta ini boleh dibilang cukup berhasil, jika melihat polah-tingkah para pelaku maksiat yang berulah di depan kita. Setan telah berhasil menjadi pemenang, dan kita pun menjadi pecundang!

Sudahkah kita “sadar” bahwa kita tengah dan selalu digoda oleh setan?

Kita mengenal sejarah godaan setan kepada manusia bermula  interaksi anergis antara Adam-Hawa dengan Iblis. Adam-Hawa berasal dari golongan manusia, sedang Iblis berasal dari golongan jin.

Disebutkan dalam firman Allah SWT:  “Dan (ingatlah) ketika kami berfirman kepada para malaikat: “sujudlah kamu kepada Adam. Maka sujudlah mereka kecuali iblis. dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan turanan-turunannya sebagai pemimpin selain Aku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah Iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang-orang yang zalim.” (QS al-Kahfi [18]: 50).

Di dalam al-Quran, Allah SWT mengemukakan sikap-sikap yang ditunjukkan oleh manusia terhadap setan dan menunjukkan kepada kita bagaimana seharusnya kita bersikap kepadanya agar dapat mewujudkan kehidupan yang baik di dunia ini sehingga membawa kebahagiaan di dunia maupun di akhirat.

Dalam bersikap kepada setan, ada manusia yang menjadikannya seperti saudara sehingga ia memiliki sifat-sifat yang sama sebagaimana yang dimiliki oleh setan, satu diantaranya adalah melakukan apa yang disebut dengan tabdzîr dalam penggunaan harta, yakni menggunakan atau membelanjakan harta untuk sesuatu yang tidak dibenarkan oleh Allah dan Rasul-Nya, baik sedikit apalagi banyak. Dalam bahasa kita hal ini diistilahkan dengan pemborosan, karena mengandung kesia-siaan.

Orang yang melakukan hal ini disebut dengan mubazir. Harta yang kita miliki, sebanyak apapun dia sangat banyak yang membutuhkannya baik untuk keluarga sendiri yang memang sangat berhak maupun orang lain seperti orang miskin dan orang yang dalam perjalanan yang memerlukan pertolongan, Allah SWT berfirman: “Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.” (QS al-Isrâ’ [17]: 26-27).

Dalam kehidupan ini, manusia membutuhkan pemimpin, namun manusia tidak boleh sembarangan memilih pemimpin, karena hal itu bisa mengakibatkan persoalan yang sangat pelik. Namun yang amat disayangkan adalah ada manusia yang menjadikan setan atau orang-orang yang berwatak setan sebagai pemimpin sehingga kepemimpinan itu membawa akibat negatif yang sangat besar, Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya setan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya. Sesungguhnya kekuasaannya (setan) hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya menjadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah.” (QS an-Nahl [16]: 99-100).

Kata sulthân (kekuasaan) dalam ayat di atas berasal dari kata as-Sâlith yang maksudnya adalah minyak yang digunakan untuk menyalakan lampu yang menggunakan sumbu. Ini berarti sulthân adalah keterangan atau bukti yang menjelaskan sesuatu dengan terang dan mampu meyakinkan pihak lain, baik benar maupun salah. Setan memang memiliki kemampuan untuk memperdaya manusia, namun yang bisa diperdaya oleh Setan hanyalah orang-orang yang lemah imannya, yang menjadikannya sebagai pemimpin, sama seperti virus sebuah penyakit yang hanya akan menimpa orang-orang yang tidak memiliki daya tahan tubuh yang kuat.

Penggunaan kata “wali” (pelindung) terhadap setan juga disebutkan dalam firman Allah SWT: “Allah pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah setan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (QS al-Baqarah [2]: 257).

Ini berarti ada manusia yang menjadikan setan sebagai pemimpin dan pelindung. Kata “wali” bermaksud sesuatu yang langsung datang atau berada sesudah sesuatu yang lain, tidak ada perantara di antara keduanya. Ketika Allah SWT atau setan yang dijadikan sebagai wali oleh manusia, itu artinya manusia memiliki hubungan yang sangat dekat sehingga langsung ditolong, dibantu dan dilindungi. Ketika Allah SWT yang dijadikan sebagai wali (pemimpin dan pelindung), maka Allah SWT akan mengeluarkan manusia dari kegelapan dan kesesatan kepada cahaya yang terang, yakni petunjuk hidup yang benar, namun ketika manusia menjadikan setan sebagai wali, maka setan akan mengeluarkan manusia dari jalan hidup yang benar (cahaya) kepada kegelapan atau kesesatan yang banyak.

Dalam kehidupan ini, manusia tidak bisa hidup sendirian, ia membutuhkan kawan yang dapat menghibur dikala duka, yang dapat membantu dikala susah dan menemaninya dikala sepi, bahkan memecahkan persoalan saat menghadapi masalah. Karena itu, manusia seharusnya menjadikan orang-orang yang baik dan shaleh sebagai kawan, karenanya Allah SWT berpesan kepada setiap mukmin untuk selalu berkawan kepada orang-orang yang shiddîq (benar), Allah SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (QS at-Taubah [9]: 119).

Karena itu amat disayangkan bila manusia menjadikan setan atau orang-orang yang berwatak setan sebagai kawan dekatnya, akibatnya merebaklah berbagai kejahatan yang disebarluaskan oleh setan, karena setan dan pengikut-pengikutnya hanya akan membuat manusia menempuh jalan hidup yang sesat hingga berujung ke neraka, Allah SWT berfirman: “Di antara manusia ada orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan dan mengikuti setiap setan yang sangat jahat, yang telah ditetapkan terhadap setan itu, bahwa barangsiapa yang berkawan dengan dia, tentu dia akan menyesatkannya dan membawanya ke azab neraka .” (QS al-Hajj [22]: 4).

Sikap terbaik yang harus ditunjukkan oleh manusia terhadap setan adalah menganggap dan menjadikannya sebagai musuh yang harus diperangi dan diwaspadai setiap saat. Setan harus diperlakukan sebagai musuh karena sepak terjangnya dalam kehidupan kita menjadi kendala besar bagi kita untuk bisa menjadi muslim yang sejati, Allah SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS al-Baqarah [2]: 208).

Disamping itu, seruan Allah SWT untuk memperlakukan setan sebagai musuh tidak hanya ditujukan kepada orang-orang yang beriman, tapi juga kepada seluruh umat manusia, karena ada kebutuhan-kebutuhan manusia yang harus dipenuhinya dan ia tidak boleh menghalalkan segala cara dalam upaya mencapainya, Hal ini karena, meskipun manusia tidak beriman kepada Allah SWT atau tidak menjadi muslim, dalam upaya memenuhi kebutuhan hidupnya, tetap saja mereka yang tidak beriman kepada Allah-pun tidak membenarkan upaya yang menghalalkan segala cara, Allah SWT berfirman: “Hai manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan; karena sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS al-Baqarah [2]: 168).

Keharusan mjin kalahanusia menjadikan setan sebagai musuh juga karena dalam kehidupan bersama, manusia sangat mendambakan kedamaian hidup, sedangkan setan selalu menanamkan perselisihan, permusuhan ke dalam jiwa manusia hingga akhirnya terjadi peperangan; tidak hanya dengan kata-kata tapi juga perang secara fisik dengan korban harta dan jiwa yang sedemikian banyak serta membawa dampak kejiwaan yang negatif, dan ini sebenarnya tidak dikehendaki oleh manusia, Allah SWT berfirman: “Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: “Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan diantara mereka. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi manusia.” (QS al-Isrâ’ [17]: 53).

Manakala kita siap menjadikan setan sebagai musuh, maka setiap kita harus waspada 24 jam setiap harinya, memiliki kesiapan untuk “berperang” dengannya dalam arti: “zero lolerance” (tidak ada kompromi) dengan setan, memiliki daya tahan yang kuat untuk menghalau godaan setan dan memohon perlindungan kepada Allah SWT dari gangguan-gangguan setan, bila ini yang kita lakukan, maka kita bisa menjadi orang yang bertakwa dengan sebenar-benar takwa.

Dan hanya ketakwaan kitalah “instrumen” yang dapat menjamin diri kita menjadi “Sang Pemenang” dalam setiap pergumulan “melawan setan”, dan sekaligus menjadikan para setan terkapar menjadi “Sang Pecundang” di hadapan kita!

Penulis adalah: Dosen Tetap FAI-UMY dan Dosen Luar Biasa STIKES ‘Aisyiyah Yogyakarta.

Leave a Reply