PEKAN II (2018-2019) UNIRES bersama Ustadz Fathurrahman Kamal: Kepemimpinan di Era Millenial

Ahad, 25 November 2018, Unires kembali mengadakan PEKAN(Pengajian Akhir Bulan). Kali ini Unires mengangkat tema “Kepemimpinan di Era Millenial” bersama Ustadz Fathurrahman Kamal, salah seorang dosen tetap di Fakultas Agama Islam UMY. Acara ini dipandu oleh Ustadz Mahfud Khoirul Amin, Wakil Direktur Unires Bidang Program dan Pembinaan.

Bertempat di Meeting Room lantai dasar Unires Putra, acara berjalan dengan khidmat dan penuh pemikiran. Peserta yang terdiri dari Senior Residen, Asisten Senior Residen dan Pembina diajak untuk membedah hal-hal fundamental dari fenomena sosial dan politik yang terjadi pun kian berkembang. Turut hadir membersamai, Ustadz Muhsin Hariyanto, Direktur Unires UMY.

Malam ba’da isya tersebut, Ustadz Fathur menyampaikan bahwa saat ini terjadi perubahan sosial yang luas dan spektakuler. Pekerjaan manusia mulai digantikan dengan robot. Manusia mulai terseret arus media sosial online, menjadikannya sebagai rutinitas bahkan kebutuhan. Semua hal akan serba online, cyber-world / cyber connected. Silaturahim, berkunjung dan tatap muka menjadi hal yang mulai dianggap kurang penting bahkan tidak penting.

Abad 21, masyarakat mengarah pada post-modern society dan post-industrial society di mana yang terdepan adalah soal rasonalitas, objektivitas, iptek, teknologi informasi dan  kapitalisme global. Semakin bermunculan kritik dan dekonstruksi atas ideologi dan agama. Hal ini akhirnya mulai memengaruhi gaya hidup masyarakat, sehingga menjadikan berkembangnya alam pikiran humanisme-sekuler; atheisme; nihilisme dan sekularisme. Dunia tanpa batas dan neo-liberalisme mendunia.

Lebih jauh beliau menyampaikan bahwa pergeseran masyarakat dari Cyber Society ke Cyber Religion bukan tidak mungkin terjadi. Masa depan yang mengarah dari Real Life ke Virtual Life. Satu contoh ekstrim adalah di Jepang mulai ada orang-orang yang sangat menikmati interaksi dengan dunia virtual, bahkan mereka menikah dengan karakter virtual yang sama sekali tidak nyata. Persepsi atas pentingnya agama dan tuhan dalam kehidupan, mulai ditinggalkan.

Di Indonesia sendiri, perbedaan-perbedaan politik mulai meruncing dan memunculkan keributan yang tak terhitung di dunia maya. Perseteruan ini membelah masyarakat menjadi 2 kutub yang sebenarnya tidak perlu, menguras energi dan cenderung sia-sia. Mengikuti berbagai macam persoalan politik yang memicu perdebatan bahkan perseteruan akan menjadi kegiatan yang tak kunjung menemui penyelesaian. Banyak dari kita tidak sadar bahwa situasi-situasi ini memang sengaja dihadirkan untuk mengganggu bahkan membuat kita tidak fokus dalam menjalani hidup kita sebagai seorang muslim.

Di negara-negara maju, angka persepsi bahwa “agama tidak penting” semakin menandingi pandangan akan pentingnya agama. Atheis kian bertumbuh. Sebuah penelitian menunjukkan, di Tiongkok, hanya 3% orang yang percaya tuhan, bahkan di Saudi 1,5 juta orang mengatakan “saya atheis” di mana merupakan 5% pertumbuhan atheisme.

Beliau juga memaparkan beberapa hal yang menjadi tantangan modernitas. Mulai banyaknya individu-individu yang menolak aturan tuhan. Pemikiran-pemikiran di luar islam, khususnya peradaban barat modern kian mewarnai kehidupan bahkan mengendalikannya. Ideologi seperti sekularisme, atheisme bahkan komunisme kian subur. Berbagai ilmu pengetahuan khususnya ilmu sosial yang bersumber pokok dari luar ajaran islam, misalnya Sigmond Freud yang menjadi rujukan utama dalam psikologi. Adapun tokoh-tokoh liberal semakin mendapatkan tempat yang nyaman dalam dunia pendidikan dan masyarakat.

Agama yang kian tergerus oleh pemikiran-pemikiran yang menyimpang, bahkan agama menjadi dipersalahkan. Nampaknya tulisan  berjudul “Agama Menjadi Terdakwa” menjadi layak dipikirkan dan direnungkan. Di masyarakat, khususnya kalangan millenial, Materialisme dan Hedonisme merajai arah berpikir. Pendidikan moral dan etika menjadi semakin terancam.

Negara Arab Saudi mulai menyempit sekedar menjadi tempat studi bahasa Arab, tempat ritual, dan situs sejarah, bukan lagi menjadi pusat studi, perkembangan Islam, Al-Qur’an dan Hadits serta kepemimpinan Islam. Hal ini dapat dibuktikan dari perkembangan liberalisme dan atheisme di sana.

Di akhir penyampaiannya, beliau memberikan beberapa pesan penting. Pertama, Kedepankan nurani dan etika. Kedua, bahwa melihat berbagai permasalahan ini, Al-Maidah ayat ke-52 menjadi penting untuk dipahami dalam hal sosial dan politik. Ketiga, kita perlu bersyukur bahwasannya di Indonesia masih banyak orang yang percaya akan pentingnya agama dan tuhan. Keempat, semakin banyak membaca kiriman-kiriman tulisan di medsos tentang politik dan perseteruan yang viral, maka otak kita bisa kian tumpul. Menjaga kewarasan diri menjadi senjata agar tak termakan zaman. Selama umat islam waras, insyaAllaah negeri kita akan aman dan tentram. Kewarasan juga yang akan dapat mewujudkan kepemimpinan yang baik dan benar. Bukan hanya waras secara intelektual, namun juga secara spiritual. Dengan demikian slogan “Moral and Intelectual Totality” akan terwujud.

Acara ditutup oleh Ustadz Mahfud dengan bacaan tahmid dan do’a kafarotul majlis. Sebelumnya terdapat pengumuman terkait pencapaian hafalan para SR, ASR dan Pembina.

Leave a Reply