Setiap orang yang hidup di atas bumi menginginkan hidupnya selalu sukses. Dan, meskipun semua telah berusaha untuk meraih kesuksesan, ternyata hanya sedikit yang mampu mencapainya. Kebanyakan belum mencapai level (tingkatan) tersebut. Jika demikian, ada satu pertanyaan besar, mengapa orang yang menginginkan kesuksesan belum kunjung juga mendapatkannya? Untuk pertanyaan ini, Nabi Muhammad SAW sudah memberikan jawabannya.

Rasulullah SAW bersabda,

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ.

“Barangsiapa meniti jalan untuk mencari ilmu, Allah akan permudahkan baginya jalan menuju surga.” (Hadits riwayat At-Tirmidzi dari Abu Hurairah, Sunan at-Tirmidzi, juz V, hal. 28, hadits no. 2646)

Hadits itu menguraikan, bahwa Rasulullah SAW menyebut seseorang yang sedang berjalan untuk menuntut ilmu dengan kata “salaka”. Padahal, berjalan dalam bahasa Arab tidak hanya “salaka”, masih ada kata “masyâ”, “sâra”, “safara”, atau “dzahaba”.

Pertanyaannya, mengapa kata “salaka” yang dipilih Nabi, bukan selainnya. Rupanya, kata-kata selain “salaka” hanya mempunyai arti utama berjalan. Perjalannya, terkadang, hanya untuk mencari kesenangan belaka. Mungkin, pembaca pernah mendengar, orang yang berjalan untuk mencari hiburan disebut dengan “tamasya”, yang dalam istilah sehari-hari sering disebut dengan ‘wisata atau piknik’. Kata tersebut berasal dari kata “masyâ”.

Jika Nabi SAW menggunakan kata ini, niscaya orang yang menuntut ilmu ini hanya akan mencari kesenangan belaka. Padahal, perjalanan untuk mencari ilmu bukanlah untuk sekadar mencari kesenangan.

“Salaka” bermakna berjalan dengan tegap dan cepat serta dengan pandangan ‘fokus’ kepada tujuan yang dicita-citakan. Dalam hal menuntut ilmu, Nabi SAW menginginkan agar setiap “thâlib al-ilm” (pencari ilmu) benar-benar berjalan dengan tegap dan cepat, bukan berjalan dengan berleha-leha, apalagi merangkak. Jika ia tidak fokus, ia akan berhenti di tengah perjalanan, bahkan akan kembali ke rumah, jika ada hambatan yang menghadang.

Dengan berjalan tegap dan cepat, ‘dia’ sekarang berada di tengah-tengah perjalanan. Nabi SAW mengingatkan orang ini agar perjalanannya diiringi dengan “yaltamisu”, berpegang (memegang). Dalam hal ini pula, Nabi SAW menggunakan kata “yaltamisu”, bukan “yumsiku” atau “qabadha”.

Jika “yumsiku” yang digunakan oleh Nabi SAW, maka orang ini hanya akan sekadar memegang. Sementara, “yaltamisu” memiliki makna memegang erat-erat atau kuat-kuat. Seperti orang yang hampir jatuh ke jurang, orang ini akan memegangi ranting dan dahan dengan sekuat-kuatnya. Jika tidak, pasti ia akan jatuh ke dalam jurang.

Begitu juga dengan orang yang menuntut ilmu. Ketika sudah berada di tengah-tengah perjalanan (salaka), ia juga berpegang kuat-kuat. Dalam konteks ini, dia harus memegang kuat niat yang ada di dalam jiwanya. Dia pun tidak akan berhenti di tengah jalan meski dihadang seribu halangan.

Kata kunci selanjutnya dalam hadits Nabi SAW di atas ialah “jannah” yang berarti surga. Surga merupakan gambaran dari suatu tempat yang di dalamnya penuh kenikmatan. Tiap orang yang menikmati fasilitasnya, tidak perlu lagi bekerja. Semua hal yang diinginkan sudah disediakan di dalamnya.

Surga dengan gambaran demikian baru bisa dinikmati oleh seseorang ketika sudah meninggal dunia. Lantas, apakah surga seperti itu jadi jaminan bagi penuntut ilmu? Nabi SAW sadar, penuntut ilmu hidup di atas bumi. Dia menginginkan kehidupannya mapan dan tercukupi segala kebutuhannya.

Oleh karenanya, surga (jannah) dalam Hadits di atas hanya merupakan ‘simbol’. “Jannah” di atas bermakna kesuksesan. Orang yang sudah sukses, hidupnya penuh dengan kenikmatan. Segala kebutuhan hidupnya terpenuhi dengan baik.

Dengan demikian, makna dari hadits Nabi SAW di atas ialah, “Barang siapa yang mengadakan perjalanan dengan sungguh-sungguh untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan untuk menuju kesuksesan.” Inilah jaminan kepada siapa saja yang (sudah) berilmu, dengan berbekal ilmu dan ridha Allah, hidupnya pun akan ‘sukses’ karenanya. Dan selamnya, tidaklah mungkin orang tersebut akan ‘sengsara’, karena Allah telah menjaminnya. Tentu saja, bukan sembarang orang yang berilmu yang akan menuai kesuksesan. Tetapi mereka (orang yang berilmu) dan beramal shaleh dengan ilmunya, dengan senantiasa membangun keikhlasan untuk menggapai ridha-Nya.”

Wallâhu A’lam.