مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا ۚ بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِ اللَّهِ ۚ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepada mereka (kitab suci) Taurat, kemudian mereka tiada menunaikannya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab besar lagi tebal. Amatlah buruk perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah. Dan Allâh tiada memberi petunjuk bagi kaum yang zhalim.” (QS al-Jumu`ah/62: 5)

http://gemintang.com/kisah-sukses-motivasi-inspirasi/files/2012/09/Donkey.png

Ilustrasi Keledai

Penjelasan

Salah satu sifat buruk bangsa Yahudi telah disibak melalui ayat di atas. Allâh SWT menyebutkan ayat ini setelah memberitakan anugerah besar yang diterima umat berupa diutusnya seorang Nabi akhir zaman di tengah mereka dengan mengemban risalah terbaik sepanjang masa.

‘Abdur Rahmân as-Sa’di mengatakan, “Setelah Allâh SWT menyebutkan anugerah (besar) kepada umat ini; dengan diutusnya seorang Nabi yang ummi (buta huruf; tidak mampu baca tulis), serta keistimewaan lain yang telah Allâh SWT khususkan bagi mereka, yang tidak dianugerahkan kepada siapapun selain mereka sehingga umat ini mengungguli manusia yang terdahulu dan yang datang kemudian, maupun Ahlu kitab (Yahudi dan Nasrani) yang mengklaim bahwa merekalah para ulama rabbani dan para ahli ibadah yang sesungguhnya. Selanjutnya Allâh Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan bahwa orang-orang Yahudi dan Nasrani yang telah Allâh Subhanahu wa Ta’ala embankan taurat kepada mereka dan diperintahkan untuk mempelajari dan mengamalkannya, namun ternyata mereka tidak mengemban (amanat itu dengan baik) dan tidak pula menjalankannya. Karenanya, mereka tidak memiliki keutamaan sedikit pun, justru mereka bak keledai yang memikul kitab-kitab ilmu di atas punggungnya. Apakah keledai itu dapat memanfaatkan kitab-kitab yang berada di atas punggungnya? Apakah mereka akan mendapatkan kemuliaan dengan keadaan tersebut? Ataukah nasibnya hanyalah sekedar memikul saja?! Demikianlah perumpamaan para ulama Yahudi yang tidak mengamalkan Taurat, dimana perintah teragung dan paling utama yang ada padanya adalah agar mengikuti (petunjuk) Muhammad s.a.w. dan beriman kepadanya. Oleh sebab itu, orang semacam mereka hanya akan menjumpai kerugian dan hujat keburukan atas diri mereka sendiri?! Perumpamaan yang sangat sesuai dengan kondisi mereka… “ 1

Tidak saja mengabaikan kandungan kitab suci, mereka juga mengotak-atik dan merubahnya sesuai dengan hawa nafsu. Imam Ibnu Katsîr t menyatakan “Allâh Subhanahu wa Ta’ala menyampaikan celaan bagi kaum Yahudi yang telah diberi Taurat untuk diamalkan, namun mereka tidak menunaikannya. Perumpamaan mereka dalam hal itu tak ubahnya seperti keledai yang membawa kitab-kitab, keledai tidak mengetahui apa yang terdapat padanya sekalipun dia memikulnya. Demikian pula (kaum Yahudi) dalam membawa kitab suci yang dikaruniakan kepada mereka, mereka hanya menghafal teks-teksnya saja, tanpa memahami dan tidak pula mengamalkan substansinya. Justru mereka menyelewengkann menyimpangkan serta merubahnya. Dengan itu mereka menjadi lebih buruk daripada keledai. Karena keledai tidaklah berakal, sementara mereka memiliki akal namun tidak mempergunakannya….”. 2

Asy-Syaukâni menyebutkan bahwa Maimûn bin Mihrân berkata “keledai tidak mengetahui apa yang ada di atas punggungnya, apakah kitab suci (dari Allâh) ataukah sampah? Demikianlah kaum Yahudi.” 3

Hidayah akan sulit datang kepada mereka karena sifat kezhaliman sangat melekat pada diri mereka. Karena itu, di akhir ayat, Allâh SWT berfirman:

وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“… dan Allâh tiada memberikan hidayah bagi kaum yang zhalim”.

Maksudnya, Allâh Subhanahu wa Ta’ala tidak akan membimbing dan memberikan hidayah taufik kepada orang-orang yang menzhalimi diri mereka sendiri dengan mengkufuri ayat-ayat Rabb mereka dikarenakan sifat kezhaliman dan pembangkangan masih menjadi karakter yang melekat pada mereka. 4

Perumpamaan Yang Sangat Buruk

Seperti telah dikemukakan di atas, Allâh SWT menyerupakan bangsa Yahudi dengan keledai yang termasuk jenis binatang yang bodoh dan tidak disukai manusia. Sudah tentu, permisalan tersebut betul-betul mengandung celaan bagi bangsa Yahudi. Syaikh al-`Utsaimin menegaskan 5 , “Sesungguhnya Allâh SWT tidaklah menyerupakan manusia dengan jenis binatang melainkan dalam konteks celaan dan hinaan. Sebagaimana firman ayat di atas yang menyebutkan penyerupaan dengan keledai, dan ayat lain yang menyebutkan penyerupaan dengan anjing. Allâh SWT berfirman:

 وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آتَيْنَاهُ آيَاتِنَا فَانسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ () وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَٰكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الْأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ ۚ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِن تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَث ۚ ذَّٰلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا ۚ فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ()

“Dan bacakanlah kepada mereka berita tentang orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami, kemudian dia melepaskan diri (meninggalkan) ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh setan (sampai akhirnya dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalaulah Kami menghendaki, sesungguhnya Kami meninggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, namun dia cenderung kepada dunia dan mengikuti hawa nafsunya, maka perumpamaannya adalah seperti anjing bila kamu menghalaunya, dia menjulurkan lidahnya dan bila kamu membiarkannya, maka dia akan menjulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami…” (QS al-A`râf/7,175-176)

Begitu pula, Rasûlullâh s.a.w. menggunakan binatang sebagai perumpamaan untuk maksud yang sama (cercaan), seperti sabda beliau berikut ini:

الْعَائِدُ فِيْ هِبَتِهِ كَالْكَلْبِ يَقِيْءُ ثُمَّ يَعُوْدُ فِيْ قَيْئِهِ

“Seorang yang menarik kembali (hadiah) pemberiannya, maka dia tak ubahnya seperti seekor anjing yang muntah kemudian menelan kembali muntahannya itu.” 6

Demikianlah Allâh SWT memberikan perumpamaan yang begitu mendalam tentang kaum yang mendustakan ayat-ayat Allâh SWT dan tidak mengamalkannya. Mereka seperti keledai bodoh yang hanya merasakan kelelahan dengan beban buku-buku tebal yang berada di atas punggungnya saja, tanpa mengetahui apa yang ada padanya. Perumpamaan ini serupa dengan firman Allâh SWT :

…أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

“… mereka seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat. Mereka itulah orang- orang yang lalai.” (QS al-A`râf:/7: 179).

Dan pada bagian akhir ayat utama di atas Allâh SWT menyatakan,

بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِ اللَّهِ ۚ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Amatlah buruk perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allâh SWT itu. Dan Allâh SWT tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zhalim”.

Syaikh Abu Bakar al-Jazâiri dalam kitab tafsirnya menyebutkan sebuah pelajaran berharga bahwa dalam ayat tersebut termuat cercaan bagi orang-orang yang menghafal ayat-ayat Kitâbullâh (al-Qur’ân) namun mereka tidak mengamalkan isi kandungannya”. 7

Ragam Sikap Manusia Terhadap Ayat-ayat Allah

Demikianlah perumpamaan kaum Yahudi dalam hal kebodohan mereka tentang Taurat dan keagungan ayat-ayatnya, seperti keledai dalam kebodohan mereka memikul kitab-kitab (di punggungnya), hanyalah akan menjadi beban yang melelahkan. Setelah menjelaskan kandungan makna ayat di atas, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah menjabarkan ragam sikap dan reaksi manusia dalam berinteraksi dengan ayat-ayat Allâh SWT sebagai petunjuk:

Pertama, yang menerimanya secara lahir dan batin. Mereka ada dua macam:

  1. Orang-orang yang berilmu dan mengajarkan ilmunya. Mereka itulah para ulama yang memahami dengan baik dan benar tentang maksud-maksud ayat-ayat Allâh Subhanahu wa Ta’ala, selanjutnya mereka dapat memetik intisari pelajaran serta rahasia hikmah yang terkandung di dalamnya.
  2. Orang-orang yang menjaga kitab Allâh Subhanahu wa Ta’ala, mengingat serta menyampaikannya, namun mereka bukan termasuk yang dapat memetik intisari hukum maupun pelajaran di dalamnya dan tidak pula mampu mengungkapkan kandungan hikmahnya.

Kedua, orang-orang yang menolak secara lahir dan batin serta mengingkarinya. Golongan ini pun terbagi menjadi dua macam:

  1. Kaum yang mengetahui kebenaran kitab Allâh SWT serta meyakini keabsahannya, namun mereka takluk oleh kedengkian hati, kesombongan maupun ambisiusme kepemimpinan di hadapan kaum mereka sehingga semua itu membuat mereka menolak kitab suci Allâh.
  2. Adapun yang lainnya adalah para pengikut jenis pertama kelompok ini. Mengagungkan atau mengkultuskan mereka dalam setiap ucapan, sikap dan keputusan. Menjadikan mereka sebagai panutan yang diikuti.

Ketiga, mereka yang telah mendapatkan pelita hidayah kemudian menjadi buta dan tersesat, telah berilmu kemudian menjadi gelap hati tanpa cahaya, telah beriman namun kemudian berpaling kafir mengingkari. Mereka itu adalah para pemuka kaum munafiqin. Atau mereka yang memiliki pandangan lemah. Mereka menjauh dari mendengarkan al-Qur’ân, kalaupun mereka mendengarnya, maka mereka menutup telinga seraya berkata “jauhkan kami dari ayat-ayat ini!”. Bahkan seandainya mereka mampu, niscaya mereka akan mengambil tindakan buruk bagi siapapun yang memperdengarkan al-Qur’ân atau mengajarkannya kepada mereka.

Keempat, orang-orang yang beriman yang menyembunyikan keimanan di hadapan kaum mereka seperti sebagian keluarga Fir`aun, atau seperti an-Najasyi yang dikabarkan bahwa Rasûlullâh s.a.w. telah menyalatkan jenazahnya… 8

Perumpamaan Ini Tidak Dikhususkan Hanya Bagi Kaum Yahudi

Para Ulama menjelaskan bahwa ayat ini tidak hanya berlaku pada kaum Yahudi saja, akan tetapi juga mencakup siapapun yang mengabaikan ayat-ayat Allah, termasuk umat Muhammad yang mengabaikan ayat-ayat al- Qur’ân. Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah menjelaskan ayat di atas dengan berkata,  “Allâh SWT menggambarkan manusia yang telah ditugasi mengemban kitab suci-Nya untuk diyakini, dicermati, diamalkan dan didakwahkan, namun ternyata mereka menyelisihinya, mereka sekedar menghapalnya tanpa tadabbur (penghayatan), tidak mengikuti petunjuknya, tidak pula berhukum dengannya dan mengamalkannya, sungguh mereka itu ibarat keledai yang membawa kitab-kitab namun tidak memahami isi yang terdapat di dalamnya. Nasib mereka persis sama seperti nasib keledai. Perumpamaan ini sekalipun mengetengahkan contoh kaum Yahudi, akan tetapi maknanya mencakup siapapun yang mengemban kitab suci al-Qur’ân, akan tetapi tidak mengamalkannya, tidak menunaikan kandungan al-Qur’an atau memperhatikannya sebagaimana mestinya”. 9

Nabi s.a.w. telah menegaskan bahwa mengamalkan ilmu yang telah diketahui merupakan konsekuensi logis. Di hari Kiamat kelak, setiap hamba akan dimintai pertanggungjawaban dari ilmu yang telah ia miliki, apakah sudah diamalkan, atau bahkan mungkin diselewengkan. Nabi s.a.w. bersabda:

لَا تَزُوْلُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ فِيْمَ فَعَلَ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَ أَنْفَقَهُ، وَعَنْ جِسْمِهِ فِيْمَ أَبْلَاهُ

“Tidaklah bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari Kiamat sampai ditanya tentang umurnya, bagaimana ia menghabiskannya; tentang ilmunya; apa yang ia kerjakan dengannya; tentang hartanya, dari manakah dia mendapatkannya dan bagaimana ia membelanjakannya, serta tentang raganya; bagaimana ia mempergunakannya”. 10

‘Ibrah dari QS al-Jumu’ah/62: 5

Pelajaran berharga yang dapat diambil dari pembahasan ayat ini di antaranya. Al-Qur’ân harus kita pahami sebagai wahyu Ilâhi (wahyu Allah) yang mengandung pelajaran yang serba-benar dan (mengandung) perumpamaan yang bisa menjadi pelajaran bagi siapa pun, di mana pun dan kapan pun. Hanya saja , tidak semua orang bersedia untuk mengimani, memelajari, memahami dan mengamalkannya.

Para ulama mengelompokkan manusia ketika mentikapi kehadiran firman Allâh, termasuk di dalamnya “kitab suci al-Quran, ke dalam emat kelompok: Pertama, yang menerima sepenuhnya dan memelajarinya, sehingga mereka memahami isinya dan mengamalkannya, yaitu orang-orang yang beriman kepadanya dan beramal saleh berdasarkan imannya kepada kitab suci itu dan para pengikutnya. Kedua, yang menolak sepenuhnya dan enggan untuk memelajari dan mengamalkannya, yaitu orang-orang yang bersikap kufur kepadanya dan sama sekali tidak mau beramal dengannya dan para pengikutnya. Ketiga, orang yang sebenarnya memiliki kesempatan untuk memahaminya dan berkemampuan untuk memahaminya, bahkan dalam hal tertentu mengerti isi (kandungannya), tetapi memiliki keengganan untuk mengamalkannya, karena dorongan hawa nafsunya dan godaan setan yang menjadikannya enggan untuk beramal dengannya, yaitu orang-orang munafik dan para pengikutnya. Keempat, orang-orang yang beriman dan menyembunyikan keimanan kepadanya di hadapan kaum mereka, karena ketidaksiapannya untuk berterus terang dengan keimanannya, sehingga mereka tampak seperti orang kafir atau munafik, padahal sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang hatinya condong kepada kebenaran dan mengimani firman Allah itu. Tetapi, karena ketidkasiapannya untuk mengamalkan isi firman Allah itu secara terang-terang-terangan, mereka sengaja menyembunyikan keimanannya kepada siapa pun yang ditengarai selalu mengawasinya.

Orang-orang yang masuk kelompok pertama adalah kelompok orang yang paling ideal. Sedang orang yang masuk dalam kelompok kedua adalah orang-orang yang paling tidak ideal (kelompok manusia yang tercela) di hadapan Allah. Sementara, kelompok ketiga dan keempat adalah kelompok manusia yang perlu disadarkan dan diberdayakan, agar bermauan dan berkeberanian untuk masuk ke dalam kelompok pertama (orang-orang yang beriman), dan jangan sampai terjebak menjadi orang-orang yang masuk dalam kelompok kedua (orang-orang kafir).

Untuk menjadi orang yang ideal, semua orang harus meninggalkan karakter (kepribadian) keledai: “orang diberi peluang untuk tahu, tetapi tidak mau memanfaatkan peluangnya untuk tahu”. Sepeti orang yang berpelungan untuk berhasil, tetapi tidak mau dan (tidak) berani untuk memanfaatkannya menjadi orang yang berhasil.

Meminjam kalimat bijak Bill Gate (Pemilik Perusahan Microsoft): “If you born poor it’s not your mistake, but if you die poor It’s your mistake” [Jika Anda lahir miskin , itu bukan kesalahan Anda, (tetapi), jika Anda mati dalam keadaan miskin, itu murni kesalahan Anda]. Kalau Anda bodoh karena lahir sebagai orang bodoh, itu sama sekali bukan kesalahan Anda; tetapi. Kalau Anda tetap menjadi bodoh, padahal Anda memiliki kesempatan untuk pintar, namun Anda tidak mau dan (tidak) berani memanfaatkan kesempatan anda untuk pintar, maka itu adalah ‘murni’ sebagai sebuah kesalahan fatal yang Anda lakukan, dan Anda pun harus bertanggung jawab sendiri karenanya!

Wallâhu a`lamu bish-shawâb

  1. As-Sa’di, Taisîr al-Karîm ar-Rahmân Fî,Tafsîr Kalâm al-Manân, hal. 945
  2. Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qurân al-‘Azhîm, juz V, hal. 117.
  3. Asy-Syaukani, Fath al-Qadîr, juz V, hal. 316.
  4. Lihat Tafsir ath-Thabari 12/92-93 , Tafsir as-Sa’di hlm. 945.
  5. Al-‘Utsaimin, Tafsîr al-‘Allaâmah Muhammad al-‘Utsaimin, juz V, hal. 24.
  6. HR al-Bukhari dari Abdullah bin Abbas, Shahîh al-Bukhâriy, juz III, hal. 207, hadits no. 2589.
  7. Al-Jazâiri Tafsir Aisarut Tafâsîr, QS al-Jumu’ah/62: 5.
  8. Ibnul Qayyim al-Jauziyah, Ijtimâ` al-Juyûsy al-Islâmiyah, , hlm. 26.
  9. Ibnul Qayyim al-Jauziyah, I`lâmul Muwaqqi`in `an Rabbil `Alamin, juz II, hal. 288.
  10. HR. At-Tirmidzi dari Abu Barzah al-Aslami, Sunan at-Tirmidzi, IV, 190, hadits no: 2417.

 

Gambar di ambil dari:

http://gemintang.com/kisah-sukses-motivasi-inspirasi/pintarnya-si-keledai/

https://masshar2000.com/2013/04/22/seburuk-buruk-suara-ialah-suara-keledai-penjelasan-ilmiah-qs-lukman19/