“Aku diam bukan berarti aku tak perhatian, tapi aku akan berbuat untuk menunjukkan
perhatianku dan tidak hanya sekedar kata-kata”

Yogyakarta, 22 Desember 2015

Fatimah side

Banyak orang berkata, hari ini hari special untuk sosok yang bisa dibilang paling berjasa dalam hidup kita. Semua orang akan gencar-gencar memberikan ucapan “selamat hari ibu”, ataupun memberikan kado special untuk ibu kita. Tapi aku tidak. Aku menghargai pendapat banyak orang itu,karena itu adalah bentuk apresiasi mereka untuk mengungkapkan rasa sayang mereka terhadap sang ibunda. Jika semua orang boleh berpendapat, tentulah aku
juga boleh berpendapat. Dan aku tidak sependapat dengan mereka. Tapi, jika aku berkata demikian pastilah semuanya akan berkata “oh, kamu itu yaa” dan akan berpikiran negative. Di dalam benakku “terserahlah apa kata kalian, itu kan pendapatku, wong semua orang bebas berpendapat kok”. Harusnya mereka itu menghargai bagaimana pun itu pendapat orang lain, karena itu kan pendapat. Tetapi, lihat pula di balik pendapat itu apa yang
dilakukan oleh orang tersebut.

Yogyakarta, 15 Februari 2015

Fatimah side

Hari ini terasa melelahkan. Banyak tugas yang harus dikerjakan, ujian akhir di depan mata, ujian nasional tinggal menghitung hari, masyaAllah, itulah hidup. Hidup tidak ada tugas, namanya ya bukan hidup. Pukul 14.00 aku baru sampai rumah, “Assalamu‟alaikum. Loh? Kok sepi?” ternyata ibu dan adik sedang tidur. Aku tersenyum melihatnya, “ibu pasti capek” pikirku. Setelah meletakkan tas dan beganti pakaian aku menuju ke dapur dan makan siang. Kulihat bapak baru saja pulang dari kebun. ”kok tumben bapak baru pulang?”. “iya, bapak habis nebar bibit tadi di kebun” jawab bapak. Aku hanya ber-oh saja. Makan siang kutunda dan aku membenahi barang bawaan bapak dari kebun tadi. “bapak mau kopi?” tanyaku. “bikini bapak the aja,mbak”. Kuturuti lah apa kata bapak. Masa iya bapak mau nya teh, aku tetap ngotot buatkan kopi, kan nggak lucu.

End side

Setelah membuatkan teh, Fatimah pun melanjutkan untuk makan siang. Tak butuh waktu lama bagi Fatimah untuk menyelesaikan makan siangnya. 1 hal yang diusahakan oleh Fatimah agar terus dia lakukan setiap siang adalah untuk tidak tidur siang, karena dia selalu berpikir kalau dia tidur siang maka nantinya dia tidak akan bisa membantu orang tua nya di rumah.

Bagi Fatimah melakukan pekerjaan rumah setiap hari adalah suatu kewajiban baginya. Oleh sebab itu setiap harinya Fatimah tidak akan pernah menunggu untuk di suruh oleh orang tuanya, tapi dia akan langsung melaksanakan apa yang dia rasa itu adalah kewajibannya. Dia selalu mengingat akan sebuah ayat dalam Al Qur’an

“… dan hendaklah berbuat baik kepada ibu-bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan keduanya perkataan „ah‟ dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik”(Q.S Al-Isra‟:23).

Oleh sebab itu, setelah diamengetahui ayat tersebut dia tidak pernah lagi menolak ataupun berkata kasar kepada
kedua orang tuanya. Asalkan apa yang dikatakan atau diperintahkan orang tuanya tersebut tidak melanggar dari perintah Allah. Dia selalu berusaha untuk tetap istiqomah dalam beribadah, entah itu wajib ataupun sunnah.  Karena dia selalu berpikir, itulah bentuk rasa syukur dia kepada Allah sekaligus bentuk sayangnya kepada orang tua.

Ibu Fatimah side

Jam 3 pagi ternyata, sebentar lagi subuh. “hiks…hiks…hiks…”. Suara apa itu? Seperti dari kamar mbak Fatimah. Pikirku biasanya jam segini itu mbak Fatimah sholat, apa dia sedang mimpi buruk? Karena penasaran, kubuka pintu kamarnya, ternyata dia sedang menangis dalam sujudnya. Subhanallah, putriku…. setelah melihat apa yg dilakukan putriku, tak dapat kubendung air mata ini. Puji syukur kuucapkan selalu kepada-Mu ya Rabb, telah
memberikan putri sholehah kepada hamba.

End side

Melihat kejadian itu, sang ibu pun bercerita kepada bapak. Dan ternyata bukan hanya ibu
saja yang penah melihat Fatimah seperti itu, tapi sang bapak pun pernah melihat kejadian
sepertia itu. Ternyata mereka baru menyadari seberapa sholehah putrinya tersebut.

Yogyakarta, 20 Desember 2015

Bulan ini merupakan liburan semester bagi para mahasiswa. Begitupun dengan Fatimah. Dan saat ini Fatimah dan kawan-kawannya tengah berkumpul di rumah Fatimah. Pembicaraan yang menjadi topik mereka tak lain adalah peringatan hari ibu. Mereka membericarakan kado apa yang nantinya akan diberikan kepada sang ibu. Sampai salah
satu teman Fatimah bertanya kepada dia “Fat, kamu mau kasih hadiah apa sama ibumu?”. Fatimah menjawab dengan senyumannya “Aku g kasih hadiah”. Teman-temannya kaget dan respon yang didapat pun sudah dapat ditebak oleh Fatimah. “Loh? Apa coba maksudmu, kok g ngasih hadiah. Kan bentar lagi hari ibu, masa kamu g ngasih hadiah. Apa jangan-jangan kamu juga g pernah ngucapin lagi sama ibu kamu?”. Sudah kuduga batin Fatimah.
“menurutku tanggal 22 desember itu bukanlah hari ibu, karena bagimu itu setiap waktu itu merupakan hari ibu. Bukan hanya hari ibu aja, tapi juga hari bapak. Lagipula kalaupun aku memberikan hadiah kepada ibu ataupun bapakku, hadiah itu pun juga kubeli dari uang pemberian mereka, apanya yang special. Tapi bukan berarti aku tidak mau memberikan mereka hadiah, aku sampai sekarang pun sedang menyiapkan hadiah yang paling special untuk mereka, dan itu kulakukan dengan melakukan kewajibanku sebagai anak dan tak lupa doa ku tak pernah tertinggal untuk mereka. Menurutku itu adalah hadiah yang paling special yang nantinya akan mempertemukanku kembali di akhirat dengan mereka. Itu hanya pendapatku saja, kan semua orang bebas berpendapat toh”. Tanggapan Fatimah. Dan teman-temannya pun hanya bisa tersenyum lebar alias cengar-cengir. Disisi lain ternyata sang ibu pun mendengar apa yang diperbincangkan putrinya dan kawan-kawannya. Ia hanya tersenyum karena dugaan atas bagaimana sifat dan watak putrinya itu memang benar. Ia berpikir kalau Fatimah itu memang tidak terlalu pandai dalam mengungkapkan rasa sayangnya lewat kata-kata tetapi ia akan selalu berbuat langsung untuk mengungkapkannya. Fatimah selalu diam apabila ada sebuah perayaan, bukan berarti dia tidak melakukan apa makna peringatan itu. Seperti contoh perayaan hari ibu.

END…

 

Penulis : Wahyu Nur Layli
Usroh : Fatimah binti Muhammad
SR/ASR: Robiatul Adawiyah/Mustika Sariah Siagian