Tak jarang apabila seorang anak menginginkan apa yang dia mau, tak jarang pula seorang anak membantah kemauan orang tua karena ia tak mau melakukan hal yang orang tua mau.

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.
(Qs. Al-Isra’ : 23)

 Padahal dalam Al-Qur’an surat Al-Isra’ ayat 23 telah menjelaskan pengharusan penghormatan dan berbakti kepada kedua orang tua.

Seorang putri yang lahir dan hidup di keluarga serba berkecukupan. Panggil saja aku Nisa, seperti panggilan yang teman-teman maupun guruku berikan kepadaku. Ibuku hanyalah seorang wirausaha yang mungkin juga penghasilannya tak seberapa untuk membiayai ketiga anaknya. Ayahku telah lama pergi meninggalkan kami saat usia kakak tertuaku 6 tahun dan usiaku 2 bulan. Cobaan berat dan tanggungan berat, yang harus dipikul oleh
seorang ibu untuk membesarkan ketiga anak kecilnya sendirian tanpa adanya suami. Seseorang yang harus mampu menjadikan dirinya sebagai sosok seorang ayah maupun sosok seorang ibu bagi anak-anaknya.

Sebuah peristiwa mengingatkanku saat usiaku 11 tahun. Tepat setelah kelulusan sekolah dasar. Saat aku ingin melanjutkan belajar di sekolah menengah yang sangat populer di kotaku. Namun, impianku untuk melanjutkan study di sana hanyalah mimpi. Ibu memaksaku untuk masuk ke sebuah lembaga pesantren di luar daerah. Perasaan apa yang terlintas sejenak dalam benak ibu? Aku merasa di buang dan sangat diasingkan, sehingga muncul beberapa pertanyaan dalam benakku “mengapa harus jauh di luar kota, jika di dalam kota masih ada sekolah maupun pesantren yang bagus?”. Keinginan untuk melanjutkan study di sekolah pilihan, membuatku tetap bersih kukuh menolak kemauan ibu, namun ibu tetap tidak memperdulikanku.

12 Juli 2005. Keterpaksaan membuatku tetap harus menuruti apa permintaan ibu. Lingkungan baru membuatku harus beradaptasi. Awalnya aku tak mengira akan seperti ini.Tak terasa sudah beberapa minggu ku jalani kehidupan di pesantren ini. Ibu tak kunjung menelpon untuk menanyakan bagaimana kabar putri bungsunya disini. “Entah apa yang ibu lakukan hingga melupakanku” batinku saat itu. Sekarang sudah satu bulan aku tidak mendengar kabar ibu. Pagi yang cerah dengan alunan kicauan burung yang menyanyi, sinar matahari yang mulai menyapa bumi ini, dengan kehidupan khas pesantren. Langkah kaki mengantarku pulang ke asrama setelah melakukan kegiatan belajar Al-Qur’an oleh pembibing dan ustadzahku. Pandanganku terarah pada sepucuk surat di atas lemari. Dengan sergap aku mengambil dan membacanya. Ternyata surat ini dari ibu. Linangan air mata membasahi pipi, tak kuasa menahan tangis setelah membaca surat itu. Mengapa selama ini aku selalu berprasangka buruk terhadap ibu? Secarik kertas penjelasan atas apa yang ibu tuliskan, telah menyadarkan diriku atas permintaan ibu untuk meneruskan sekolah di pesantren saat usia yang tergolong belia.

Pemahaman atas kemauan ibu itu pun bertambah saat aku sudah beranjak dewasa. Kini aku sudah memasuki tahun keenam mengenyam pendidikan di pesantren ini. Ibu, maafkanlah anakmu yang selalu berprasangka buruk terhadapmu. Engkau yang lebih mengetahui situasi pendidikan dan pergaulan di luar sana, pergaulan muda-mudi yang tidak ada batas. Pendidikan dan penerapan moral yang kurang di masyarakat. Pemahaman tentang agama yang sangat kurang. Risalah amanah dari almarhum bapak untuk menyekolahkan anak-anaknya ke pesantren membuat aku semakin mengerti maksud dari penjelasanmu. Do’a dan amalan yang selalu mengalir untuk kehidupan dunia dan akhiratku, maupun dunia dan akhiratmu, terutama do’a yang selalu mengalir untuk almarhum bapak.

Terima kasih ibu, atas pendidikan yang engkau ajarkan. Yang mengajarkanku pencarian dari makna kehidupan yang bukan hanya di dunia namun juga di akhirat. Pengajaran bahwa aku juga tak selamanya akan terus bersamamu hingga akhir nanti. Ibu maafkanlah atas segala apa yang telah terjadi di masa lalu, dan kini saat aku tak lagi bersamamu aku telah siap melangkah sendiri pada kehidupan ini. Hanya dengan do’a yang selalu terlantun
untukmu. Menggantikan jutaan kerinduan akan kasih sayangmu. Terima kasih ibu, aku menyayangimu.

وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun . Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (Qs. Luqman : 14)

 

Penulis : Okta Arini Nur S
Usrah : Chamamah Soeratno
SR / ASR :  Salasia Tajunnisa/Kusumaning Dwi Nuraini